Politik Campur ‘Attu’, Janji Manis Gibran-Noel Berujung Sritex Bangkrut, Buruh Menjerit

Minggu, 2 Maret 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Kolase : Janji Manis Gibran dan Noel Ditagih Karyawan Sritex. Dan Publik Desak Immanuel Noel Mengundurkan Diri

Foto Kolase : Janji Manis Gibran dan Noel Ditagih Karyawan Sritex. Dan Publik Desak Immanuel Noel Mengundurkan Diri

Zonafaktualnews.com – Janji manis di panggung kampanye tak ubahnya angin lalu—wangi di depan, busuk di belakang. Begitu pula nasib ribuan buruh PT Sritex yang kini harus menelan kenyataan pahit setelah perusahaan tekstil raksasa itu resmi bangkrut.

Dulu, saat Pemilu 2024, Gibran Rakabuming Raka mengumbar janji-janji manis, mengklaim akan memperkuat industri dan membuka lapangan pekerjaan. Para pekerja Sritex pun memberikan dukungan besar, berharap masa depan lebih baik. Namun, kenyataan berbicara sebaliknya.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Noel, pun tak kalah berlagak bak pahlawan. Januari 2025 lalu, ia berdiri di hadapan para buruh, dengan yakin mengatakan bahwa tidak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, faktanya, per 26 Februari 2025, sebanyak 10.665 karyawan terkena PHK, dan dua hari kemudian, operasional Sritex resmi dihentikan permanen.

Kini, ribuan buruh yang dulu berharap kepada Gibran-Noel justru merasakan pahitnya janji kosong. Mereka kehilangan pekerjaan di tengah ekonomi yang kian sulit.

BACA JUGA :  Gibran Blusukan ke Lokasi Banjir, Emak-emak di Bekasi Ogah Terima Bantuan

Kata-kata manis yang dulu mengalun bak angin surga kini berubah menjadi “attu”—kentut politik yang baunya menyengat di ujung perjalanan.

Sritex yang dulu berjaya, kini tinggal kenangan. Buruh yang dulu dielu-elukan sebagai tulang punggung ekonomi, kini harus berjuang sendiri mencari nafkah.

Sementara itu, mereka yang pernah menjanjikan kesejahteraan justru memilih diam atau berkilah. Politik memang seperti itu, manis di awal, busuk di belakang.

Mereka yang dulu dielu-elukan sebagai “pejuang ekonomi” kini ditinggalkan begitu saja. Tak ada solusi konkret, tak ada pertanggungjawaban nyata.

Ribuan buruh hanya bisa meratap di tengah ketidakpastian, sementara mereka yang pernah berjanji sibuk mencari dalih, berlindung di balik kata-kata “kita lihat nanti” dan “masih dalam proses.”

Di media sosial, kemarahan publik memuncak. Salah satu suara lantang datang dari pengguna platform X, Monica (@NenkMonica), yang menyoroti bagaimana karyawan Sritex dulu begitu antusias mendukung Gibran saat Pilpres 2024. Kini, mereka justru merasakan pengkhianatan.

BACA JUGA :  Desakan Memuncak! Forum Purnawirawan TNI Resmi Dorong Pemakzulan Gibran
Dulu Berjaya, Kini Gulung Tikar: Sritex Resmi Tutup, 8.475 Pekerja Ter-PHK
Pemilik PT Sritex duduk bersama ribuan karyawannya sebagai salam perpisahan terakhir (Foto Facebook Sritex)

“Menolak pikun, luar biasa dukungan karyawan Sritex untuk Gibran (saat Pilpres 2024). Definisi air susu dibalas air septic tank,” tulisnya, menyentil realitas pahit yang kini dialami ribuan buruh.

Tak hanya Monica, pegiat media sosial Yusuf Dumdum juga melayangkan kritik tajam.

Ia menyinggung Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Noel yang sebelumnya berjanji bahwa tidak akan ada PHK di Sritex.

“Hallo Noel! Mana janjimu? Jangan cuma omon-omon,” tulisnya sinis di akun X @yusuf_dumdum.

Janji palsu ini benar-benar menyakitkan bagi buruh Sritex. Mereka yang bekerja bertahun-tahun di pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara kini harus menanggung beban tanpa kepastian. Pesangon? Masih tanda tanya. Jaminan kehilangan pekerjaan? Tidak cukup untuk bertahan lama. Lapangan kerja baru? Entah ada di mana.

BACA JUGA :  Debat Cawapres Perdana Digelar Malam Ini

Ironisnya, di saat buruh berjuang mencari nafkah, para elit justru sibuk beretorika. Alih-alih memberikan solusi konkret, mereka malah sibuk saling lempar tanggung jawab.

Tim kurator yang ditunjuk PN Niaga Semarang terus berkelit soal pencairan pesangon, sementara pemerintah sekadar memberikan narasi “kami akan mencari solusi terbaik.”

Apakah ini yang disebut kepemimpinan pro-rakyat? Apakah ini hasil dari janji-janji kampanye yang dulu dielu-elukan?

Kini, ribuan buruh Sritex harus memulai kembali dari nol, berjuang mencari pekerjaan baru di tengah ekonomi yang kian sulit.

Sementara itu, Gibran dan Noel tetap duduk di kursi nyaman mereka, jauh dari suara tangisan para pekerja yang telah mereka tinggalkan.

Politik memang seperti “attu”—bisa terdengar nyaring, tapi pada akhirnya hanya menyisakan bau busuk bagi rakyat kecil.

 

(Id Amor)
Follow Berita Zona Faktual News di Google News

Berita Terkait

Oknum Pembiayaan Moladin di Sulsel Diduga Tipu Nasabah Lewat Skema “Dana Sinta”
Banjir Kepung Bekasi, Ketinggian Air Capai 1,5 Meter di Jatibening Permai
Program Kemiskinan Tak Transparan, LACAK Gowa Diminta Tunjukkan Data Bukan Asumsi
Psikiater UI Mintarsih Tanggapi Sorotan Menkeu Purbaya Soal “Penggorengan Saham”
PN Sinjai Kabulkan Praperadilan Kasus Laka Lantas, SP3 Polantas Dinyatakan Tidak Sah
Komisi III DPR RI Desak Kejaksaan Bongkar Aktor di Balik Kerusakan Banjir Aceh
Cuaca Ekstrem Mengintai Sulsel, BMKG Ingatkan Banjir dan Gelombang Tinggi
Heboh, Bumi Akan Kehilangan Gravitasi 7 Detik pada 2026, Ini Fakta Sebenarnya

Berita Terkait

Minggu, 25 Januari 2026 - 01:30 WITA

Oknum Pembiayaan Moladin di Sulsel Diduga Tipu Nasabah Lewat Skema “Dana Sinta”

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:40 WITA

Banjir Kepung Bekasi, Ketinggian Air Capai 1,5 Meter di Jatibening Permai

Sabtu, 24 Januari 2026 - 02:40 WITA

Program Kemiskinan Tak Transparan, LACAK Gowa Diminta Tunjukkan Data Bukan Asumsi

Jumat, 23 Januari 2026 - 02:45 WITA

Psikiater UI Mintarsih Tanggapi Sorotan Menkeu Purbaya Soal “Penggorengan Saham”

Jumat, 23 Januari 2026 - 01:33 WITA

PN Sinjai Kabulkan Praperadilan Kasus Laka Lantas, SP3 Polantas Dinyatakan Tidak Sah

Berita Terbaru