Zonafaktualnews.com – Umat Islam di seluruh dunia akan menyaksikan fenomena langka pada tahun 2030, di mana bulan Ramadan diprediksi akan terjadi dua kali dalam satu tahun kalender Masehi.
Peristiwa ini terakhir kali terjadi pada tahun 1997 dan baru akan terulang kembali setelah lebih dari tiga dekade.
Berdasarkan perhitungan astronomi, Ramadan pertama di tahun 2030 akan dimulai pada 6 Januari, sedangkan Ramadan kedua akan jatuh pada 26 Desember.
Hal ini terjadi akibat perbedaan sistem kalender Hijriah yang berbasis lunar (354-355 hari) dengan kalender Masehi yang berbasis solar (365-366 hari).
Perbedaan sekitar 10–11 hari per tahun menyebabkan Ramadan terus bergeser maju dalam kalender Masehi, sehingga dalam siklus sekitar 30–33 tahun sekali, bulan suci ini dapat terjadi dua kali dalam satu tahun Masehi.
Bukan Tanda Kiamat, Melainkan Siklus Alamiah
Fenomena ini sempat menimbulkan spekulasi di kalangan masyarakat, terutama terkait dengan tanda-tanda kiamat.
Namun, para ulama dan ahli astronomi menegaskan bahwa peristiwa ini bukanlah pertanda akhir zaman, melainkan murni konsekuensi dari sistem penanggalan yang berbeda.
“Ramadan dua kali dalam satu tahun Masehi bukan sesuatu yang luar biasa dalam konteks astronomi. Ini hanyalah perbedaan antara kalender lunar dan solar yang menyebabkan pergeseran tersebut,” ujar ahli falak dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Dr. Ahmad Fauzi.
Dalam Islam, tanda-tanda kiamat telah dijelaskan dalam berbagai hadis, namun tidak ada satupun yang menyebutkan tentang Ramadan yang terjadi dua kali dalam satu tahun sebagai salah satu pertanda tersebut.
Peluang untuk Lebih Banyak Ibadah
Bagi umat Islam, fenomena ini bisa menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan ibadah.
Dengan dua kali Ramadan dalam satu tahun Masehi, umat Muslim mendapatkan dua kesempatan untuk menjalankan puasa sebulan penuh, memperbanyak amal ibadah, dan meningkatkan ketakwaan.
“Ini adalah momen istimewa yang jarang terjadi dalam satu generasi. Kesempatan ini sebaiknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal, memperbaiki diri, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah,” kata Ustaz Abdul Malik, seorang dai nasional.
Selain itu, peristiwa ini juga dapat menjadi refleksi bagi umat Islam untuk lebih memahami sistem penanggalan Hijriah dan bagaimana Islam menggunakan perhitungan bulan dalam menentukan waktu-waktu ibadah.
Dengan demikian, fenomena Ramadan dua kali dalam setahun ini bukan hanya sebuah kejadian astronomi yang langka, tetapi juga menjadi momen berharga bagi umat Muslim untuk semakin memperkuat keimanan dan spiritualitas mereka.
Kapan Fenomena Ini Terjadi Lagi?
Setelah tahun 2030, fenomena Ramadan dua kali dalam satu tahun Masehi diperkirakan akan terjadi kembali sekitar tahun 2063.
Oleh karena itu, bagi yang berkesempatan mengalami peristiwa ini, diharapkan dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Editor : Id Amor
(Sumber: LAPAN, BMKG, Ahli Astronomi)
Follow Berita Zona Faktual News di Google News





















