Zonafaktualnews.com – Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas polemik syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ternyata belum sepenuhnya meredakan diskursus publik.
Di balik ketukan palu hukum tersebut, masih tersisa babak kontroversi lain yang dinilai luput dari penyelesaian tuntas.
Guru Besar Universitas Airlangga, Prof. Henri Subiakto, menilai bahwa meskipun perkara hukum yang membayangi Gibran telah mencapai titik akhir secara yudisial, persoalan serupa justru masih mangkrak jika ditarik ke masa kepemimpinan sebelumnya.
“Persoalan ijazah Gibran sudah selesai, putusan MK itu final dan mengikat,” kata Prof. Henri pada Kamis (8/10/2026).
Kendati demikian, Henri mengingatkan publik untuk tidak melupakan PR besar yang hingga kini masih menyelubungi dokumen kepemilikan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Menurutnya, belum ada produk hukum maupun pengadilan yang secara terang-terangan menguji keaslian ijazah tersebut.
“Tinggal urusan ijazah Pak Jokowi yang belum tuntas, belum ada putusan pengadilan terkait keberadaan dan keasliannya,” ujar Henri menyoroti celah hukum yang ada.
Ia menambahkan, dinamika hukum yang berjalan selama ini tidak pernah menyentuh substansi kebenaran dokumen Jokowi secara langsung.
Sejauh ini, proses peradilan justru lebih banyak menjatuhkan sanksi pidana kepada pihak-pihak yang berani mempertanyakan atau menganalisis keaslian dokumen tersebut.
“Keputusan yang final dan mengikat terkait ijazah Pak Jokowi sama sekali belum ada. Yang sudah ada hanya keputusan pidana terhadap warga negara yang mempertanyakan dan menganalisa keaslian ijazah Pak Jokowi,” tegas Henri.
Lebih jauh, pemerhati komunikasi politik ini melontarkan kritik menohok terhadap karakter kolektif masyarakat Indonesia yang kerap memaklumi anomali di ruang publik.
Ia menyayangkan kecenderungan publik yang mudah berkompromi dengan ketidakberesan sistemik.
“Terlebih selalu ada orang-orang yang merasionalisasi apa pun, termasuk merasionalisasi dan menormalisasi penyimpangan dan ketidaknormalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu yang membuat bangsa ini dekat dengan ketidakjujuran yang dibiarkan,” tandas Henri.
Editor : Id Amor













