Perjanjian Prabowo–Trump Sah, Pemerintah Izinkan Data Pribadi WNI Dikirim ke AS

Sabtu, 21 Februari 2026 - 01:48 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Perjanjian Prabowo–Trump Sah, Pemerintah Izinkan Data Pribadi WNI Dikirim ke AS

Prabowo Subianto dan Donald Trump (Ist)

Zonafaktualnews.com – Kesepakatan dagang antara pemerintahan Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memasukkan klausul aliran data pribadi lintas negara sebagai bagian dari kerja sama ekonomi digital kedua negara.

Pemerintah menegaskan, kebijakan tersebut tetap berada dalam koridor hukum nasional dan tidak mengabaikan perlindungan data warga negara Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, transfer data lintas batas itu tercantum dalam Agreement on Reciprocal Tariff (ART), khususnya pada bagian kerja sama perdagangan digital dan teknologi.

Menurutnya, Indonesia hanya membuka ruang pengiriman data untuk kepentingan bisnis secara terbatas dan tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Airlangga memastikan mekanisme tersebut mensyaratkan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan konsumen dan data pribadi. Ia juga menyebut pemerintah Amerika Serikat akan menerapkan standar perlindungan yang diakui setara dengan ketentuan di Indonesia.

BACA JUGA :  F-KRB Desak Prabowo Buktikan Janji Tindak Oknum Jenderal Beking Tambang Ilegal

Dalam dokumen yang dipublikasikan pihak Washington, klausul tersebut masuk dalam Pakta 3 tentang Perdagangan Digital dan Teknologi.

Di dalamnya, Indonesia sepakat mendorong peningkatan aktivitas perdagangan digital, termasuk memberikan perlakuan non-diskriminatif terhadap produk dan layanan digital asal AS yang beredar di pasar domestik.

Tak hanya soal data, kedua negara juga menyepakati kolaborasi menghadapi ancaman serangan siber. Namun, terdapat pula ketentuan bahwa AS meminta adanya komunikasi lebih dulu apabila Indonesia hendak menjalin kesepakatan perdagangan digital serupa dengan negara lain, dengan alasan menjaga kepentingan strategisnya.

Klausul transfer data ini sebelumnya menuai perdebatan publik karena dikhawatirkan berpotensi berbenturan dengan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) dan prinsip kedaulatan digital.

Pihak Istana sempat menyebutnya sebagai strategi pengelolaan perdagangan di era ekonomi digital.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid juga menilai kesepakatan tersebut merupakan praktik global yang lazim diterapkan dalam kerja sama ekonomi digital lintas negara.

BACA JUGA :  MUI, NU, dan Muhammadiyah Tolak Rencana Prabowo Evakuasi Warga Gaza ke Indonesia

Ia menegaskan, pengiriman data tetap berbasis persetujuan individu serta dilengkapi protokol tata kelola yang terukur dan sah secara hukum.

Menurut Meutya, pengaturan ini justru memperkuat posisi Indonesia dalam memastikan hak digital warganya terlindungi saat menggunakan layanan global seperti mesin pencari, media sosial, komputasi awan, hingga platform perdagangan elektronik.

Prinsip yang dikedepankan, kata dia, tetap pada tata kelola yang baik, perlindungan hak individu, dan supremasi hukum nasional.

Di sisi lain, Chairman CISSReC Pratama Persadha mengingatkan adanya potensi risiko terhadap kedaulatan data apabila pengawasan tidak dilakukan secara ketat dan transparan.

Ia menilai, pengiriman data ke luar negeri bisa mengurangi kontrol negara atas informasi strategis yang berhubungan dengan keamanan nasional dan pembangunan ekonomi digital jangka panjang.

BACA JUGA :  Aktivis 98 Sebut Manuver Budi Arie di Depan Jokowi Sinyal Lengserkan Prabowo

Pratama menyoroti bahwa sistem perlindungan data di Amerika Serikat belum sepenuhnya setara dengan standar General Data Protection Regulation (GDPR) Uni Eropa.

Meski demikian, ia mengakui UU PDP Indonesia memang membuka ruang transfer data ke luar negeri sepanjang negara tujuan memiliki tingkat perlindungan yang memadai atau lebih tinggi.

Ia menekankan pentingnya kehadiran lembaga pengawas perlindungan data pribadi yang independen dan kuat.

Lembaga tersebut nantinya akan berperan krusial dalam mengevaluasi dan menetapkan standar keamanan dalam setiap transfer data lintas negara, sehingga kepentingan nasional tetap terjaga di tengah arus perdagangan digital global.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Pengamat Peringatkan Risiko “People Power Di-Nepal-kan” Jika Gibran Tak Mundur
Husniah Talenrang Lengser, Darmawangsyah Muin Pegang Kemudi Plt Bupati Gowa
Minta Gibran Lengser, Rocky Bak Kerbau Dicocok Hidungnya Usai Disemprot Bakom
Simulasi Pemakzulan Beredar di Medsos, DPR Ditantang Lengserkan Gibran
Siswi SMPN 5 Sungguminasa Dianiaya Kakak Kelas, Sekolah Lepas Tangan?
Kabut Asap Karhutla “Serang” Makassar, Racun PM2.5 Ancam Kesehatan Warga
Neon Box Nganro Mart di Barru “Offside”, Tinggal Tunggu Dihantam Truk
Balap Liar di Gowa Didenda Rp 3 Juta, Polisi Didesak Transparansi Soal BRIVA

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:24 WITA

Pengamat Peringatkan Risiko “People Power Di-Nepal-kan” Jika Gibran Tak Mundur

Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:48 WITA

Husniah Talenrang Lengser, Darmawangsyah Muin Pegang Kemudi Plt Bupati Gowa

Rabu, 14 Oktober 2026 - 22:21 WITA

Minta Gibran Lengser, Rocky Bak Kerbau Dicocok Hidungnya Usai Disemprot Bakom

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:48 WITA

Simulasi Pemakzulan Beredar di Medsos, DPR Ditantang Lengserkan Gibran

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:38 WITA

Siswi SMPN 5 Sungguminasa Dianiaya Kakak Kelas, Sekolah Lepas Tangan?

Berita Terbaru